Jumat, 26 Agustus 2016

Putih! Cantik?

PUTIH CANTIK
ANDA SETUJU? JUJURLAH… ;)

Putih. Cantik. Itulah mantera industri. Tak hanya mata rantai industri kosmetika melainkan juga sektor lainnya. Lihat saja model iklan mobil, ponsel, dan… SPG di pameran.

Putih itu cantik. Cantik itu putih. Tak semua orang setuju. Olok-olok sembarangan bilang, “Yang nggak setuju biasanya yang nggak berkulit putih.”

Adapun bentuk perlawanan, dari “black is beautiful” sampai “gendut juga tetap cantik”, menurut pengolok-olok itu hanya diamini oleh kaum yang terbela. Mungkin serupa dengan pembenar dan penghibur diri, “Botak itu macho“. Padahal kalau diberi kesempatan lagi jadi gondrong mungkin si botak akan memanjangkan rambutnya.

Tentu saya tak menyamaratakan industri kecantikan. Toh dunia fashion pernah punya Naomi Campbell dan Iman Abdul Majid. Industri kosmetika punya The Body Shop yang mencoba meyakinkan setiap wanita bahwa masing-masing itu cantik meskipun tidak putih dan tidak langsing.

Salah satu cara meyakinkan ya dengan menyebarkan kartu pengukur “keterangan” (atau “kegelapan”) kulit. Artinya itu soal warna, soal tone. Karton yang sama tidak dirancang untuk mengukur tekstur baik untuk kehalusan maupun kekasaran kulit. Mungkin cetakan tertolak — akibat pencampuran tinta yang salah sehingga warnanya terang — malah bisa menghibur.

Sebagai penutup, saya mau tanya. Apapun warna kulit Anda, jika Anda pria lebih suka wanita berkulit terang atau gelap?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah perempuan, mau saja dibuat imej seperti itu. Feminimitas lebih kepada kepuasan bagi laki-laki (agar dipandang cantik, dapet jodoh, laku di dunia kerja, dll). Well, siapa yang lebih ‘cantik’ bakal sukses hidupnya :) untung gw dilahirkan sebagai laki2 hahaha…

Orang Eropa yg notabene berkulit terang mau jadi sawo matang, orang Asia malah berlomba-lomba untuk tambah putih. Di Eropa justru yang hitam itu dianggap keren karena tajir, bisa sering-sering liburan buat berjemur.

Ada satu iklan lagi tapi gue lupa iklan apa, pokoknya pas liat orang tua jompo yang ngga mau dilayani oleh suster yang kulitnya agak gelap, tapi begitu datang suster yg kulitnya cerah, dia langsung bangun dan berkata, “WAHHH, SEPERTI MALAIKATTT”, pembentukan imej kayak begini sangat menyesatkan. Seakan-akan pria menilai wanita hanya dari warna kulitnya. Lha atribut lain seperti intelligence, karakter, dll dikemanakan? hello?

Buat gw, warna kulit tidak masalah. Masih banyak hal-hal fisik (dan lebih superfisial) dari wanita yang lebih gw prioritaskan. Putih boleh hitam boleh, asal jangan putih tutul-tutul hitam atau hitam tutul-tutul putih. (macan tutul kaleeee)

Standar cantik yang diamini oleh banyak orang sekarang ini adalah yang dibentuk oleh industri periklanan itu. Sedih rasanya cantik itu cuma satu kriteria: putih, rambut lurus dan ramping. Padahal selera orang berbeda.

Ini bentuk penjajahan baru kaum pria terhadap wanita yang acap kali tidak sadar bahwa dia dijajah oleh pria. Yang menuntut wanita agar tampil cantik, salah satunya dengan memiliki kulit putih. Dan wanita merespon dengan senang hati, jadilah mereka target eksploitasi produk-produk bleaching seperti ponds dan rekan-rekannya (Halahh gw ngomong apa sih…)

Tapi terkadang kita juga ga bisa menyalahkan iklan seenaknya (nah lho, tadi nyalahin iklan, sekarang malah belain. Dasar ga konsisten!!!!). Begini maksud gue, kalo produknya emang menjual pemutih kulit, ya imej yg dijual ya cewe harus putih. Kecuali kalo produknya itu namanya Pond’s Black Beauty, nah itu baru lain soal. Pasti Pond’s akan menjual citra black is beautiful. Tapi, kok ndak ada yach orang jualan krim penghitam, shampo khusus rambut kribo, pengkasar kulit, penumbuh jerawat, penggemuk dan pemendek tubuh, serta aneka rupa2 lainnya... (ya iyalah, masa ya iya donk)


Tulisan ini ga perlu ditanggapi terlalu serius, entar loe sendiri yang stresss.
Apapun warna kulitnya yang penting minumnya “TEH BOTOL SOSRO”… :P

0 komentar:

Posting Komentar