PUTIH CANTIK
ANDA SETUJU? JUJURLAH… ;)
Putih. Cantik. Itulah mantera
industri. Tak hanya mata rantai industri kosmetika melainkan juga sektor
lainnya. Lihat saja model iklan mobil, ponsel, dan… SPG di pameran.
Putih
itu cantik. Cantik itu putih. Tak semua orang setuju. Olok-olok
sembarangan bilang, “Yang nggak setuju biasanya yang nggak berkulit
putih.”
Adapun bentuk perlawanan, dari “black is beautiful”
sampai “gendut juga tetap cantik”, menurut pengolok-olok itu hanya
diamini oleh kaum yang terbela. Mungkin serupa dengan pembenar dan
penghibur diri, “Botak itu macho“. Padahal kalau diberi kesempatan lagi
jadi gondrong mungkin si botak akan memanjangkan rambutnya.
Tentu
saya tak menyamaratakan industri kecantikan. Toh dunia fashion pernah
punya Naomi Campbell dan Iman Abdul Majid. Industri kosmetika punya The
Body Shop yang mencoba meyakinkan setiap wanita bahwa masing-masing itu
cantik meskipun tidak putih dan tidak langsing.
Salah satu cara
meyakinkan ya dengan menyebarkan kartu pengukur “keterangan” (atau
“kegelapan”) kulit. Artinya itu soal warna, soal tone. Karton yang sama
tidak dirancang untuk mengukur tekstur baik untuk kehalusan maupun
kekasaran kulit. Mungkin cetakan tertolak — akibat pencampuran tinta
yang salah sehingga warnanya terang — malah bisa menghibur.
Sebagai penutup, saya mau tanya. Apapun warna kulit Anda, jika Anda pria lebih suka wanita berkulit terang atau gelap?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itulah perempuan, mau saja dibuat imej
seperti itu. Feminimitas lebih kepada kepuasan bagi laki-laki (agar
dipandang cantik, dapet jodoh, laku di dunia kerja, dll). Well, siapa yang
lebih ‘cantik’ bakal sukses hidupnya :) untung gw dilahirkan sebagai
laki2 hahaha…
Orang Eropa yg
notabene berkulit terang mau jadi sawo matang, orang Asia malah
berlomba-lomba untuk tambah putih. Di Eropa justru yang hitam itu dianggap
keren karena tajir, bisa sering-sering liburan buat berjemur.
Ada satu iklan lagi
tapi gue lupa iklan apa, pokoknya pas liat orang tua jompo yang ngga mau
dilayani oleh suster yang kulitnya agak gelap, tapi begitu datang suster
yg kulitnya cerah, dia langsung bangun dan berkata, “WAHHH, SEPERTI
MALAIKATTT”, pembentukan imej kayak begini sangat menyesatkan. Seakan-akan pria menilai wanita hanya dari warna kulitnya.
Lha atribut lain seperti intelligence, karakter, dll dikemanakan? hello?
Buat gw, warna kulit tidak masalah. Masih banyak hal-hal fisik (dan lebih superfisial) dari wanita yang lebih gw prioritaskan. Putih boleh hitam boleh, asal jangan putih tutul-tutul hitam atau hitam tutul-tutul putih. (macan tutul kaleeee)
Standar
cantik yang diamini oleh banyak orang sekarang ini adalah yang dibentuk
oleh industri periklanan itu. Sedih rasanya cantik itu cuma
satu kriteria: putih, rambut lurus dan ramping. Padahal selera orang
berbeda.
Ini
bentuk penjajahan baru kaum pria terhadap wanita yang acap kali tidak
sadar bahwa dia dijajah oleh pria. Yang menuntut wanita agar tampil
cantik, salah satunya dengan memiliki kulit putih. Dan wanita merespon
dengan senang hati, jadilah mereka target eksploitasi produk-produk
bleaching seperti ponds dan rekan-rekannya (Halahh gw ngomong apa sih…)
Tapi
terkadang kita juga ga bisa menyalahkan iklan seenaknya (nah lho, tadi
nyalahin iklan, sekarang malah belain. Dasar ga konsisten!!!!). Begini
maksud gue, kalo produknya emang menjual pemutih kulit, ya imej yg
dijual ya cewe harus putih. Kecuali kalo produknya itu namanya Pond’s
Black Beauty, nah itu baru lain soal. Pasti Pond’s akan menjual citra
black is beautiful. Tapi, kok ndak ada yach orang jualan krim penghitam,
shampo khusus rambut kribo, pengkasar kulit, penumbuh jerawat,
penggemuk dan pemendek tubuh, serta aneka rupa2 lainnya... (ya iyalah,
masa ya iya donk)
Tulisan ini ga perlu ditanggapi terlalu serius, entar loe sendiri yang stresss.
Apapun warna kulitnya yang penting minumnya “TEH BOTOL SOSRO”… :P
Jumat, 26 Agustus 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar